7 Cara Toko Kelontong dan Minimarket Menyiasati Pelarangan Penggunaan Kantong Plastik

Dilarangnya penggunaan kantong plastik oleh pemerintah pada akhir-akhir ini ditanggapi secara serius oleh pengelola toko kelontong dan minimarket di beberapa kota di Indonesia. Banyak diantara pengelola toko kelontong dan minimarket yang menyetujui penggunaan bungkus atau kantong plastik berbayar pada toko kelontong dan minimarket agar dapat mengurangi limbah plastik, meskipun masih ada yang menolaknya.

Pengelola toko kelontong dan minimarket tentu saja mengalami berbagai kendala dari aturan yang diterapkan pemerintah ini, diantaranya ketidakharmonisan hubungan yang terjalin antara konsumen & pengelola toko kelontong / minimarket. Sebagai contoh masih ada konsumen yang meminta kantong plastik gratis secara paksa sebagai bagian dari service toko kelontong untuk wadah belanja karena mereka merasa  telah mengeluarkan banyak uang untuk belanja, tetapi masih harus membayar kantong plastik.

Selain itu, luapan emosi ketidakpuasan konsumen terhadap penghilangan kantong plastik gratis di sebuah toko kelontong juga sering terjadi karena kurang pahamnya masyarakat mengenai pemberlakuan aturan tersebut.  Beberapa konsumen juga ada yang langsung ngeloyor pergi meninggalkan belanjaannya yang belum dibayar karena tidak lagi mendapatkan kantong belanja gratis.

Melihat ketidakharmonisan hubungan yang terjalin antara konsumen & pengelola toko kelontong / minimarket hanya karena masalah kantong plastik gratis, perlu adanya strategi dan inovasi bagaimana caranya toko kelontong dan minimarket untuk mengatasi masalah pelarangan penggunaan kantong plastik gratis ini. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan dari berbagai sumber yang telah kami rangkum :

1.  Kantong Plastik Berbayar

Minimarket tidak lagi  memberi kantong plastik kepada pembeli jika barang yang dibeli tergolong kecil atau dapat dibawa tanpa kantong plastik Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengumumkan bahwa anggotanya akan menjalankan kebijakan Kantong Plastik Tidak Gratis (KPTG). Kebijakan ini mulai berlaku Jumat (1/2/2019), dan setiap penggunaan kantong plastik untuk barang belanjaan dikenakan biaya Rp 200/kantong.

Kasir wajib menginformasikan kebijakan itu kepada konsumen, dengan mekanisme berturut adalah kasir akan menanyakan apakah konsumen mebawa kantong belanja sendiri, jika tidak maka kasir menawarkan menggunakan kardus, kemudian opsi terakhir baru ditanyakan apakah mau menggunakan kantong plastik berbayar seharga Rp 200/kantong. Beberapa toko ritel yang akan melaksanakan KPTG diantaranya adalah Superindo, Matahari, CircleK, Sogo, Ramayana, Yogya, Alfamart, Alfamidi, dan lain-lain.

2.  Tas Belanja Pinjaman dengan Memberikan Deposit

Sebuah perusahaan besar Jerman, DM (Drogerie Markt), yang cabangnya sudah menggurita sampai Eropa Timur membuat terobosan baru untuk kepuasan konsumen, yaitu meminjamkan tas (kantong) belanja kain. Untuk jaminannya konsumen harus membayar 2€/tas, atau sekitar Rp 32.000,-/tas.

Tas kain (Stoffbeutel) yang biasa disebut “Pfandtasche” ini bisa konsumen dapatkan di setiap kasir cabang DM. Tas polos & tanpa motif (kecuali logo kecil perusahaan di cantelannya) ini, ragam warnanya selalu diganti untuk jangka waktu tertentu. Kadang biru, merah, hijau, nila atau yang lainnya. Kualitas tas ini cukup keren, selain lebih stabil dari kantong plastik sebab bisa dipakai berkali-kali & dicuci (seperti baju) juga mengurangi sampah. Kalau konsumen sudah bosan dengannya sebab kondisinya sudah lusuh, kotor, robek atau warnanya mulai pudar, konsumen dapat menukarkannya dengan yang baru atau minta uang jaminan kembali (2€) di setiap cabang DM. Jadi tidak harus ke cabang di mana kita membelinya. (Mau mengembalikan tas atau tidak, itu terserah konsumen)

3.  Mengganti Kantong Plastik dengan Kardus Bekas

Sebuah supermarket di Bandung, telah menerapkan aturna pengurrangan kantong belanja plastik dengan cara menggantinya dengan kardus bekas jika konsumen mau. Kasir akan menanyakan lebih dulu apakah konsumen membawa tas belanja sendiri atau tidak. Konsumen yang tidak membawa akan diberi kotak kardus bekas gratis untuk membungkus belanjaan.

Kasir mengambil kardus yang telah disiapkan di bawah meja lalu membukanya kemudian memberikan lakban perekat. Setelah semua barang belanjaan konsumen penuh, kotak kardus diikat / dilakban kembali. Sebagian konsumen membawa kotaknya tanpa diikat lalu dimasukkan ke mobil / diangkut dengan sepeda motor.

4. Pembelian Online dengan Delivery Order

Pembelian belanja dengan cara online merupakan salah satu cara untuk mengurangi penggunaan kantong belanja plastik. Ketika konsumen berbelanja online kemudian barang akan dikirimkan delivery servis oleh pihak toko, minimarket, atau supermarket dengan sebuah box. Box tersebut akan dibawa kepada konsumen kemudian isi belanjaan akan dibongkar langsung di rumah konsumen untuk dikosongkan kembali. Dengan begini penggunaan kantong plastik akan berkurang dan konsumen tidak akan repot pergi ke toko untuk berbelanja.

5.  Menjual Tas Go Green Menjual Tas Belanja yang Bisa Dipakai Kembali

banyak supermarket yang menjual tas Go Green, atau tas yang dapat dipakai kembali, bahkan mereka mengiming-imingi konsumen dapat membeli tas pakai ulang berharga murah untuk sejumlah pembelian tertentu. Tas Go Green ini biasanya dijual didekat kasir. Beberapa supermarket yang menjual tas pakai ulang adalah Superindo, Yogya, dan Carrefour.

Sayangnya kadang konsumen umumnya lupa membawa tas pakai ulangnya ketika berbelanja kembali ke supermarket. Mungkin karena berukuran besar dan tidak praktis. Namun baru-baru ini ada inovesi baru tas belanja lipat berbahan parasut atau yang lainnya yang dapat dilipat hingga ukuran kecil sehingga lebih praktis untuk dibawa kemana-mana sebagai gantungan kunci, disimpan dalam jok motor, atau saku motor.








6. Memberikan Kantong Belanja Berbahan Kertas Daur Ulang

Alternatif lain pengganti kantong belanja plastik adalah dengan menggunakan kantong kertas dari bahan daur ulang, beberapa supermarket di Amerika telah menggunakannya. Bahkan salah satu supermarket di Amsterdam, sengaja membuat lorong makanan bebas plastik yang dibuat dari bahan-bahan daur ulang.

Kantong kertas ini biasa dijual dengan harga Rp 200,- hingga Rp 2.000,-. Biaya ini tentu juga dapat diterapkan dengan sistem berbayar atau dapat pula diberikan secara gratis kepada konsumen dengan minimal belanja tertentu. Penggunaan tas kertas tentunya perlu digaris bawahi adalah hanya menggunakan kertas daur ulang, karena ketika kertas yang digunakan merupakan kertas baru, maka akan timbul masalah baru yaitu eksploitasi kayu yang akan meningkat.

7. Membungkus Barang Kecil dengan Kertas Bekas atau Daun

Untuk mengurangi limbah plastik di lingkungan, salah satu supermarket di Thailand menggunakan daun pisang. Untuk ganti kemasan plastik sayuran yang dijual. Rimping Supermarket di Chiang Mai, Thailand, memutuskan untuk mengurangi penggunaan plastik, dan menggantinya dengan daun pisang. Inovasi ini justru malah menarik konsumen untuk dating karena mereka melihat komitmen supermarket terhadap lingkungan dan produk sayur yang dijual menjadi terlihat lebih segar.

Di Indonesia orang dulu berbelanja di pasar, beli daging atau ikan dibungkus dengan daun jati atau daun pepaya, telur dengan keranjang anyaman bambu, juga ayam hidup, sayuran atau bumbu dapur dengan koran bekas. Bagaimana dengan buku tulis,  baju, atau barang-barang non makanan?  Produk tersebut juga dibungkus dengan kertas bekas.

Itulah tadi beberapa cara yang dilakukan oleh toko ritel modern untuk mensiasati diberlakukannya aturan pelarangan penggunaan kantong plastik untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah plastik yang terus bertambah di Indonesia.

Sumber :

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4448841/kantong-plastik-berbayar-toko-ritel-wajib-infokan-ke-konsumen

https://food.detik.com/info-kuliner/d-4483701/keren-supermarket-ini-pakai-daun-pisang-untuk-pengganti-plastik

https://www.kompasiana.com/salju/56cde03045afbdfe1fcc03b6/tas-belanja-pinjaman-pengganti-kantong-plastik-di-jerman

https://www.kompasiana.com/jurnalgemini/56cadeb5197b612f0f2b7878/seandainya-kembali-ke-gaya-belanja-1950-an-hingga-1970-an-ketika-kantong-plastik-belum-marak