Bisakah Supermarket Konvensional Bertahan di Era Digital?

Sekitar 10 tahun lalu, supermarket konvensional atau mall menjadi semacam tempat yang wajib dikunjungi masyarakat perkotaan terutama kaum wanita. Setiap bulannya akan selalu ada waktu untuk berbelanja menelusuri rak supermarket, membeli pakaian, atau sekadar membeli barang impulsif. Namun kini berbeda, teknologi dengan berbagai fitur dan kemudahannya telah mengubah kebiasaan tersebut. Masyarakat kini mulai bergeser ke arah perilaku belanja online.

Pergeseran perilaku ini berkontribusi terhadap perlambatan pertumbuhan retail nasional. Data Nielsen Retail Audit yang dikutip dari Katadata menunjukkan bahwa penjualan ritel nasional pada semester I tahun ini hanya tumbuh 3,7 persen dari sebelumnya sebesar 10,2 persen. Bahkan beberapa supermarket raksasa sudah ‘mengosongkan rak supermarket’ mereka lebih dulu, salah satunya Giant yang telah menutup 6 gerainya di Jabodetabek dalam kurun waktu setahun ini.

Dikutip dari Techinasia, lima alasan utama yang membuat masyarakat senang berbelanja online adalah karena lebih cepat (72%), tidak harus datang menelusuri rak supermarket atau toko (66%), dapat diantar (64%), mudah dibandingkan (61%), dan mudah diakses (58%). Setidaknya ada satu kata kunci yang dapat disimpulkan dari penelitian tersebut, yaitu ‘kemudahan’.

Jika supermarket konvensional tidak berinovasi sesegera mungkin, maka pangsa pasar mereka berpotensi semakin mengecil. Lalu apa yang harus dilakukan pelaku usaha supermarket konvensional? Bisakah merka menyediakan kemudahan yang diberikan toko online? Bisa! Beberapa supermarket di Amerika Serikat kini mulai beradaptasi dengan konsumen yang semakin menuntut kemudahan. Mereka kini tidak hanya fokus pada rak supermarket saja, tetapi juga menaikkan standar teknologinya. Amazon misalnya, mereka menyediakan fitur Amazon Go yang memberikan pelayanan berupa sistem check-out bernama ‘Just Walk Out’. Dengan sistem ini, konsumen tidak perlu mengantre. Cukup mengambil dan memindai barang yang akan dibeli, lalu mereka dapat langsung berjalan keluar dari supermarket. Barang-barang yang discan tadi akan otomatis masuk tagihan di account Amazon mereka.

Lebih menarik dari Amazon Go, ada Tesco yang merupakan supermarket berbasis virtual. Tesco tidak menyediakan barang display di rak supermarket. Yang ada hanya serangkaian poster dengan kode QR untuk discan. Setelah konsumen selesai berbelanja, tagihan akan masuk ke akun Tesco mereka dan barang-barang yang telah mereka beli akan dikirim ke rumah. Jadi, konsumen tidak perlu repot untuk bawa hasil belanjaannya.

Ada juga Hema Supermarket milik Alibaba Group. Keunikan pada supermarket ini adalah label pada setiap item yang dijual berupa elektronik. Jadi saat ada diskon, tidak perlu repot menggantinya dengan label kertas karena harga akan otomatis berubah sesuai perintah dari sistem. Sama seperti Amazon Go dan Tesco, terdapat kode QR yang dapat memudahkan konsumen dalam memilih barang. Tinggal scan dan barang-barang yang sudah dibeli akan otomatis terpotong di akun pembayaran digital Alipay. Sedangkan untuk barang-barang yang sudah dibeli akan dikirim langsung ke rumah.

Contoh lain yang tidak kalah menarik adalah Coop. Pada Expo Milano 2015 lalu, Coop menunjukkan kebolehannya sebagai salah satu supermarket masa depan dengan program Xbox Kinect di atas setiap display item untuk memberikan informasi tentang item tersebut. Tidak cukup sampai di situ, mereka memiliki demo dari robot yang sedang mengemas barang untuk dipajang di rak supermarket.

Fitur tersebut memungkinkan supermarket konvensional tetap mampu bertahan dari ‘serangan’ dari toko online. Apalagi supermarket konvensional memiliki toko fisik yang masih dijadikan preferensi konsumen dalam mengecek kualitas barang. Sebuah penelitian menyebutkan, alasan terbesar konsumen untuk tidak berbelanja online adalah karena mereka tidak bisa memastikan kualitas barangnya. Tentu ini menjadi keunggulan kompetitif yang dimiliki supermarket konvensional.

Para pelaku usaha supermarket konvensional hendaknya mulai berinovasi menyediakan fitur yang memudahkan konsumen dalam berbelanja. Sejauh ini dari pengamatan kami, konsep hybrid antara digital dan konvensional masih menjadi solusi terbaik untuk tetap bisa bertahan di era ini. Tinggal bagaimana mencari inovasi terbaik yang applicable dan mudah diterima masyarakat.