KEUNTUNGAN BERLIPAT dengan POP UP STORE

Tren pop-up store yaitu dengan berjualan berpindah-pindah pun mulai dilirik para pengusaha ritel untuk memikat calon pembeli. Berbagai inovasi banyak digali dalam mengantarkan produk hingga sampai ke pelanggan. Kesempatan untuk menguji reaksi pasar sekaligus menekan biaya membuat keuntungan pun makin mudah mendekat.

Apa sih Pop-Up Store?

Pop-up store atau pop-up shop pada dasarnya adalah konsep atau strategi marketing yang memanfaatkan elemen kejutan. Mereka muncul tiba-tiba di tempat-tempat yang tidak terduga. Pop-up store ini sedikit berbeda dengan mobile store, seperti food truck, yang umumnya berpindah-pindah tempat di waktu-waktu yang sudah ditentukan. Walau bukan tidak mungkin mobile store menerapkan konsep pop-up.

Diperkenalkan pada awal 1990-an di kota-kota besar seperti London, Los Angeles, Tokyo, dan New York City, toko-toko pop-up dan ritel pop-up adalah ruang ritel sementara yang menjual barang dagangan apa pun. Itu benar, hampir setiap produk konsumen telah dijual melalui toko pop-up pada satu titik waktu. Mulai dari seni hingga mode hingga gadget teknologi dan makanan, toko-toko pop-up sangat menarik karena mereka menciptakan toko-toko jangka pendek yang sama kreatifnya dengan mereka. Dan, mereka datang dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Detail tentang Pop-up Store:

Periode : biasanya 3 hari hingga 3 bulan.

Lokasi : pada event berskala besar seperti piala dunia, asian games, festival nasional; atau jalur lalulintas pejalan kaki yang ramai seperti pusat kota, mal, dan jalan yang sibuk.

Harga: jauh lebih rendah dari toko tradisional, biasanya dibayar dimuka.

Fungsi : untuk meluncurkan produk baru, membangkitkan awareness, memindahkan inventaris, memperkenalkan kolaborasi, lebih dekat dengan pelanggan, meningkatkan faktor ‘keren’

 

Meningkatkan Brand Awareness dengan POP-UP STORE

Meski sempat dianggap hanya tren sesaat, ternyata konsep kejutan ini kemudian diadopsi oleh brand besar dan kecil di Amerika Utara dan Eropa sampai sekarang. Musim panas tahun lalu misalnya, fashion retail H&M membuat pop-up store berbentuk container kayu yang ditempatkan di Pantai Schevenengen di Den Haag, Belanda. Toko yang hanya buka dua hari ini menjual koleksi busana pantai yang hasilnya didonasikan kepada organisasi nirlaba untuk air bersih.

Menurut Paulina Pungky, Managing Director DreamLab Indonesia, Brand & Strategic Retail Consulting, di luar negeri strategi pemasaran pop-up store banyak dipakai oleh brand besar yang memang sudah punya nama, sebagai bentuk dari brand extension. “Toko pop-up adalah sarana alternatif yang lebih efektif daripada iklan untuk buzzing atau meningkatkan brand awareness,” katanya. Ia juga memberi contoh bahwa label besar seperti Kate Spade, Louis Vuitton, dan Mini Cooper pun pernah menggelar pop-up store yang begitu artistik.

Apa Tujuan Membuat Pop-Up Store ?
Beberapa pemilik merk usaha memiliki tujuan yang berbeda saat mereka membuat sebuah Pop-up Store. Namun beberapa tujuan tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  • Meningkatkan penjualan
  • Brand Awareness
  • Customer Engagement (keterlibatan pelanggan)

Manfaat POP-UP STORE untuk usaha kecil / online

Strategi pop-up ini juga sering dipakai oleh perusahaan atau merek yang lebih kecil, seperti yang umumnya terjadi di Indonesia. Pungky menuturkan, pop-up store atau pop-up market bisa menjadi wadah yang tepat bagi para pengusaha online, yang kebanyakan belum mampu untuk membuka toko fisik, untuk bertemu langsung dengan pelanggannya.

“Kalau tadinya mereka hanya berinteraksi di Facebook, Instagram, atau BBM, customer bisa mencoba langsung produknya di sana. Pemilik usahanya juga bisa mendapatkan feedback langsung dan menjaring pelanggan-pelanggan potensial untuk ke depannya,” tutur Pungky.

Bagi pengusaha kecil dan menengah, konsep pop-up ini memang memiliki beberapa kelebihan. Yang paling utama adalah biaya yang terjangkau. Karena sifatnya sementara dan ukurannya lebih kecil daripada gerai atau toko, biaya sewanya otomatis akan lebih murah.

 

Artikel oleh Wanita Wirausaha Femina