Strategi Omnichannel, Cara Meningkatkan Omset Minimarket di Era Digital

Era digital mengubah alur belanja konsumen menjadi lebih variatif. Konsumen kini tidak hanya mengakhiri proses belanja mereka di rak minimarket atau toko. Mereka cenderung menggunakan kombinasi channel offline dan online untuk melakukan proses pembelian. Penggunaan channel ini biasa disebut omnichannel.

Sebuah penelitian dari Harvard Business Review pada 46.000 konsumen menyimpulkan, 73% konsumen menggunakan beragam channel untuk melakukan pembelian. Hanya 7% konsumen yang konsisten menggunakan channel online. Sementara 20% konsumen berbelanja secara eksklusif di minimarket atau toko fisik. Temuan ini merupakan peringatan bagi para pengusaha minimarket untuk memilai strategi omnichannel.

Secara umum, strategi omnichannel pada minimarket dilakukan dengan menghadirkan display barang Anda pada channel offline dan online. Jadi tak hanya dalam bentuk fisik, rak minimarket Anda juga harus hadir dalam bentuk digital, plus disertai fitur transaksi secara online.

Ada beberapa tips untuk membantu Anda meningkatkan omset minimarket dengan strategi omnichannel:

1. Temukan di mana audiens Anda.

Mulailah mencari tahu tentang siapa dan di channel digital mana pelanggan Anda berselancar. Juga jangan lupakan platform digital yang biasa mereka gunakan. Tujuannya adalah untuk menentukan channel digital yang perlu Anda fokuskan. Sebab, Anda akan kesulitan jika masuk ke semua channel digital yang ada.

Misalnya, Anda mungkin menemukan bahwa kebanyakan pengunjung minimarket Anda adalah anak muda generasi milenial. Maka kemungkinan besar Instagram adalah channel yang tepat untuk difokuskan. Anda bisa mengaktifkan fitur instagram shopping untuk mendorong mereka belanja.

Jika Anda telah memiliki website dengan banyak pengunjung, cobalah untuk melihat demografi usia, gadget, atau interest pengunjung. Dari situ Anda bisa menyimpulkan siapa audiens Anda selama ini.

2. Jadikan Semua ‘Touch Point’ Memiliki Fitur Transaksi

Jika Anda ingin memenangkan strategi omnichannel, maka semua ‘touch point’ Anda di offline dan online harus memiliki fitur transaksi. Jadi ketika seseorang menemukan brand Anda di Google, Facebook, Instagram, atau channel lain, mereka bisa membeli produk Anda dengan mudah.

Beberapa raksasa media sosial kini mendukung fitur shopping untuk para pebisnis, dan Anda sebagai pebisnis retail harus memanfaatkannya sebaik mungkin.

3. Pastikan transisi yang mulus antara online dan offline.

Jika Anda telah hadir di channel online dan offline, penting bagi Anda untuk menjembatani celah yang ada di antara keduanya. Tujuannya adalah untuk memastikan transisi yang lancar antara transaksi yang terjadi di kedua channel.

Misalnya, Anda bisa memberikan keleluasaan pada pelanggan untuk memesan secara online dan mengambil produk di minimarket fisik Anda. Ini akan meningkatan pengalaman pelanggan karena mereka dapat menghemat banyak waktu.

4. Sediakan Metode Pembayaran Variatif

Dompet digital telah mengubah segalanya, uang saat ini bukan lagi satu-satunya alat pembayaran yang diterima masyarakat luas. Go-Pay, Ovo, Dana, LinkAja, adalah beberapa uang digital yang mulai banyak digunakan masyarakat Indonesia. Bahkan kini muncul ‘generasi cashless’ yang enggan menggunakan uang fisik untuk pembayaran. Dengan perkembangan ini, menyediakan metode pembayaran variatif adalah tuntutan. Mulailah menggaet mitra-mitra pembayaran untuk memperbanyak opsi bagi konsumen.

Selain menyediakan kemudahan, fitur pembayaran digital juga bisa dimanfaatkan untuk menarik minat belanja konsumen. Pasalnya, perusahaan uang digital tersebut sering memberikan cashback yang mendorong konsumen untuk berbelanja di toko yang menjadi mitra-mitra mereka.